Kisah Inspirasi Penuh Hikmah

Halaman

    Social Items


Layaknya kamera yang hasilnya bergantung pada apa yang kita fokuskan, begitupun kehidupan. Kita bisa memfokuskannya untuk memotret hal-hal yang baik, juga bisa untuk menangkap hal-hal yang buruk.

Jadi, pilihannya tergantung kita, apa yang mau kita lihat dan apa yang mau kita fokuskan dalam hidup ini?

Jika kita mampu memotret dan berfokus kepada hal-hal yang baik dan indah yang kita miliki serta menikmati hidup ini, kita akan memiliki kehidupan yang bahagia.

Sebaliknya, jika kita senantiasa berfokus kepada kesialan, cacat, kemalangan, dan cela yang kita atau orang lain miliki, hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup kita, dan berpikir orang selalu mencoba menipu kita atau menjatuhkan kita, sudah dipastikan hidup kita akan penuh dengan drama dan penderitaan.


Ambil kamera, kemudian ambil gambar sesuka hati. Dengan begitu, kita akan mengerti bentuk bahagia dari hasil jepretan kamera kita sendiri.

Belajar dari Kamera

Ada pepatah mengatakan: 
Menabur dalam pikiran akan menuai tindakan, Tindakan akan melahirkan kebiasaan. Kebiasaan akan membuahkan karakter.. 
Pikiran kita seperti tanah, tanah tidak pernah peduli terhadap jenis benih apa yang hendak kita tanam. 
Jika kita menabur benih jagung, tanah akan meresponnya, lalu menumbuhkan jagung. 
Apapun yang kita tanamkan dalam pikiran, pikiran kita akan segera menerima, merespon & menumbuhkannya. 
Sadar atau tidak, sering kali kita berkata hal-hal buruk tentang diri kita sendiri, misalnya: 
Hidupku penuh masalah, Aku tidak akan berhasil, Sakitku tidak akan sembuh Masa depanku suram,Hidupku cape, dan sebagainya. 
Hal-hal negatif yang kita ucapkan itu akan direspons oleh pikiran kita dalam bentuk sikap & tindakan, yang pada gilirannya akan menghasilkan sesuatu yang sama seperti yang kita tanamkan dalam pikiran kita.



Oleh sebab itu, tanamkan hal yang positif di benak kita, maka kita akan menjadi luar biasa. 
Dan pelihara pikiran yang baik & benar. 

Pikiran positif yang harus dengan kearifan bisa membedakan mana yang baik & benar. 
Mari biasakan untuk selalu berpikir:
Saya sangat beruntung. Hidupku penuh berkah. Saya pasti mampu mengatasi masalah ini ! Masa depanku pasti cerah ! Hari ini saya pasti penuh semangat ! Saya sangat bersyukur pada tuhan atas apa yang saya miliki saat ini. Saya akan berjuang & berjuang terus ! Tuhan pasti buka jalan ! 

Hidup adalah permainan pikiran, kalau kita bisa mengelola pikiran kita, maka hidup kita akan bahagia. 

Atur pikiran dengan baik. Hiduplah dengan ketenangan agar kita mampu mengelola pikiran kita.

----oooo----- 
Hati yang baik itu seperti kebun, Pikiran yang baik itu akar nya, Perkataan yang baik itu bunganya. Perbuatan yang baik itu buahnya. 
----oooo----- 
Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, Pikiran adalah pemimpin, Pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, Maka kebahagiaan akan mengikutinya, Bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya. 
---oooo-----

Motivasi Positif Alam Bawah Sadar




Jangan buat seseorang mencintaimu jika kamu tak siap tuk berikan hatimu.
Cinta tak berbalas itu menyakitkan. 

Jangan sesali sesuatu yang telah kamu lakukan di masa lalu, sesali sesuatu yang tak mampu kamu raih untuk masa depan. 

Terkadang kamu memilih tuk berhenti memberi perhatian pada seseorang, hanya karena ingin dia menyadari ketidak-hadiranmu. 

Jangan pernah menyesali masa lalumu, mereka telah menjadikan dirimu hari ini. Dirimu yang dewasa, kuat dan percaya diri. 

Ketika kamu lelah, mintalah kekuatan pada Tuhan. Ketika kamu tiada kata, bicaralah pada Tuhan. Ketika kamu kesepian, ada Tuhan. 

Kadang kamu memilih tuk menjauhi seseorang, bukan karena berhenti mencintainya, tapi karena kamu harus melindungi diri dari luka. 

Jangan menunggu orang lain memaafkanmu baru kau memperbaiki diri. Perbaikilah dirimu, maka orang akan memaafkanmu. 

Kebanggaan terbesar adalah menjadi dirimu sendiri & mengandalkan dirimu sendiri, tanpa bergantung kepada orang lain. 

Seburuk apapun masa lalumu, mereka telah berlalu. Berusaha yang terbaik saat ini tuk persiapkan masa depan yang lebih baik. 

Masa depan bukan hanya tempat yang kamu tuju, namun tempat yang kamu ciptakan melalui pikiran, niat, dan dilanjutkan tindakan nyata. 

Jika kamu tak mampu memimpikan masa depanmu, maka kamu adalah orang yang tak tahu kemana tujuan hidupmu.

Salah satu hal membahagiakan dalam hidup adalah ketika kedua orang tua kita tersenyum bangga atas apa yang kita lakukan. 

Ketika kamu merasa menyesal, berpikir tuk mengulang kembali masa lalu, pikirkanlah apa yang kamu miliki saat ini. 

Be Happy! Pria sejati selalu setia pada pasangannya, mereka memilih berpisah jika memang tak bisa bersama. 

Berkhianat itu Pengecut. 

Tak perlu berusaha tuk selalu sempurna hanya karena ingin dicinta, yang kamu butuh adalah dia yang bisa terima kekuranganmu. 

Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba.

Hal yg sulit tuk menunggu, tapi indahnya cinta layak akan waktumu.

Dalam hidup, terkadang tuk bisa merasa lebih baik, kamu hanya harus menerima kenyataan bahwa kamu tak akan selalu merasa baik. 

Tersenyumlah, bukan karena hidup memberikanmu alasan tuk tersenyum, namun karena senyummu adalah alasan orang lain tersenyum. 

Wanita menangis bukan karena mereka lemah, namun karena mereka tak menemukan kata tuk ungkapkan perasaan mereka. 

Hal yg sulit ketika semua yang baik tiba-tiba menjadi buruk, dan lebih sulit ketika harus memutuskan tuk bertahan atau melepaskan.

Sahabat adalah mereka yang mungkin tak bersamamu ketika kamu sukses, namun mereka yang pasti bersamamu ketika kamu jatuh. 

Jangan takut jatuh cinta. Percaya, ada seseorang yang akan hadir dalam hidupmu, merubah segalanya, dan membuatmu tertawa bahagia. 

Hal buruk yang terjadi dalam hidupmu adalah cara Tuhan mengingatkanmu tuk selalu bersyukur ketika hal yang baik terjadi. 

Hidup ini bukan tentang menjadi seseorang yang dicintai semua orang, tapi tentang menjadi seseorang yang dicintai Tuhan. 

Melupakan seseorang yang telah memberimu banyak kenangan indah adalah hal yang sangat sulit. Tapi jika itu yang terbaik, relakanlah. 

Bersyukurlah atas apa yang kamu miliki, perbaiki kesalahan masa lalu, dan belajarlah tuk hidup tuk saat ini. 

Jika kamu bertemu orang yang bisa membuatmu tersenyum ketika orang lain membuat menangis, teruslah bersamanya. 

Hanya karena cinta, tak berarti harus terus terluka. Kadang kamu harus merelakannya agar hati tak menderita. 

Dalam hidup, setiap masalah adalah pelajaran berharga. Setiap cobaan yang datang adalah proses pendewasaan diri. 

Jangan menunggu dia pergi tuk kamu menyadari betapa berharganya dia. Tak mudah temukan seseorang yang peduli padamu. Hargai. 

Terkadang kita memilih tuk diam, bukan karena tak tahu apa-apa, namun karena diam lebih baik daripada memperkeruh suasana.

Ketika kamu merasa kehilangan harapan dalam hidup ini, ingatlah bahwa Tuhan punya rencana yang lebih besar dari mimpimu. 

Kamu tak akan selalu benar dalam melakukan segala hal. Salah adalah hal yang wajar. Maafkan dirimu, perbaiki, dan terus berusaha Ketika kamu merasa mimpimu tak terwujud, percayalah bahwa sebuah mimpi yang lebih besar sedang menantimu. 

Have Faith! Hal yg sangat sulit ketika kamu tahu kamu mencintainya, tapi kamu tak tahu bagaimana cara mempertahankan perasaanmu. 

Kebahagiaan tak akan datang menghampiri jika kamu tak menjemputnya. Ciptakan di pikiran, lanjutkan ke tindakan. 

Smile! Jangan pernah melewatkan kesempatan tuk buat seseorang bahagia, bahkan jika untuk itu kamu terpaksa harus meninggalkannya. 

Jangan ragu tuk mencoba, jangan takut akan kegagalan. Takut akan kegagalan adalah hal yang membuat mimpi tidak akan bisa terwujud. 

Maafkan diri sendiri sebelum memaafkan orang lain. Mereka yang tak bisa memaafkan diri sendiri, tak akan bisa memaafkan orang lain. Kebesaran hati seseorang, dapat dilihat dari kemampuannya dalam memaafkan kesalahan dirinya pun orang lain. 

Jika kamu hanya lakukan apa yang kamu tahu bisa kamu lakukan, kamu tak akan pernah melakukan banyak hal. Jangan takut mencoba! Tuhan memang selalu menjanjikan yang terbaik, namun bukan berarti jalan yang kamu tempuh akan mudah. 

Apapun itu, bersyukurlah. Tuhan tak akan memberimu mimpi jika Dia tak memberimu kemampuan tuk mewujudkannya.

Dream Big! Work Hard! Have Faith! Kamu mungkin melewati hari tanpa memikirkan Tuhan, namun tak pernah sedetikpun Dia tak memikirkanmu. 

Bersyukurlah. Cintailah seseorang dari kekurangannya, dan suatu saat kamu akan pantas mendapatkan yang terbaik darinya Kita selalu bisa memaafkan tanpa harus melupakan. Tapi kita takkan benar-benar bisa melupakan tanpa memaafkan Jangan melihat masa lalu lebih baik dari yang seharusnya, karena akan membuatmu melihat saat ini lebih buruk dari yang sebenarnya. 

Ketika masalah datang menghampirimu, jangan berharap ia akan mudah, namun berharaplah bahwa ia akan membuatmu dewasa. 

Jangan hidup dalam kepura-puraan maupun kebohongan, karena pada akhirnya kebenaran pasti terungkap, dan kamulah yang menderita. 

Tak ada yang terlambat bagi Tuhan, terkadang Dia hanya mengajarkan padamu bagaimana tuk bersabar. 

Seseorang mungkin akan membencimu karena kebaikan dirimu, namun sahabat tetap menyayangimu meski mereka tahu kejelekanmu.

Ketika seseorang sungguh mencintaimu, dia tak akan menyakitimu. Jikapun dia menyakitimu, ketahuilah, itu menyakitinya juga. 

Dalam hidup ini, ada beberapa hal yang tak ingin kita pertahankan, namun kita terlalu takut tuk mengakhirinya. 

Tiap ada masalah, sabar.. karena masih banyak orang lain yang punya masalah jauh lebih berat, & bahkan bersedia untuk bertukar masalah denganmu. 

Lihatlah, kita tidak ada masalah tapi perlahan saling melupakan. Ya.. karena hati punya kadarnya sendiri untuk sabar atas cinta. Sabar dalam menjalani hidup, sabar dalam menyelesaikan masalah merupakan langkah pendewasaan diri. Harus sabar sih, pasti banyak cobaan yang terpenting kita bisa mengambil hikmah dari Setiap masalah.

Sabar adalah cara yang harus digunakan untuk menyelesaikan masalah apapun. Seberat apapun, akan cepat diselesaikan dengan kesabaran. 

Orang yang sabar dan ikhlas akan menelusuri setiap relung masalah untuk mencari segala bentuk hikmah sebagai bahan refleksi dan evaluasi diri. 

Setiap masalah memiliki jalan keluar, tetap tenang sabar dan teruslah berusaha mencari jalan keluar aku memandang masalah sebagai teman. Aku belajar tersenyum karenanya, belajar sabar karenanya, dan akhirnya, dewasa karenanya. 

Ketika masalah datang, Allah tidak meminta kita untuk memikirkan jalan keluar hingga penat, Allah hanya meminta kita sabar dan shalat. 

Sabar untuk menunggu Kuat untuk bertahan Santai menghadapi masalah apapun Menghargai yang kita punya saat ini.

Ketika kita bisa sabar dan tabah terhadap masalah yang menimpa kita, dijamin kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik lagi.

Semakin pekat malam, semakin mendekati pagi. Semakin runyam masalah, semakin mendekati solusi. Insya Allah.. Kuncinya: Sabar Masalah bukan untuk dihadapi dengan kasar, tetapi disikapi dengan sabar.

Masalah dan cobaan itu hanya membuat kita lebih sabar dan tegar.

KETENANGAN itu akan lahir dari setiap jiwa yang Sabar dan Ikhlas, meskipun dihimpit berbagai masalah Hidup. 

Bingung hadapi masalah yang ada, tapi tetap sabar, dan selalu tersenyum Tuhan bantu aku untuk selalu bersyukur atas semua keadaan, sabar menjalani masalah dan ikhlas akan semua takdirmu.

Biarkan si MASALAH itu pergi dengan sendirinya , karena ia akan bosan berlama-lama berada didalam diri seseorang yang TANGGUH dan SABAR.

Apapun masalah yang kamu hadapi hari ini, hadapi dengan sabar, jangan menurunkan kualitas dirimu Orang sabar pasti mudah dalam menghadapi suatu masalah, karena orang sabar pasti menyelesaikan masalah dengan tenang, tidak tergesa gesa & emosi.

Ya Robb, tuntun hamba agar selalu berusaha lebih baik, selalu ikhlas dan sabar dalam menghadapi cobaan dariMu.

Jangan pernah menyerah dan berusaha lari tapi hadapilah cobaan yang ada di depan kita dengan rasa sabar.

Tuhan, terima kasih atas petunjukMu agar kami selalu menjadi orang yang sabar dan kuat dalam menghadapi cobaan dalam menuju kebahagiaan.

SABAR adalah kawan terbaik dalam melewati setiap cobaan yang hadir dalam hidup kita… Masalah silih berganti, solusinya selalu sama : sabar, ikhlas & tawakal.

Mintalah kekuatan kepada allah Untuk selalu sabar dalam menghadapi Masalah dan ujian.

Ketika masalah datang, Allah tidak meminta kita memikirkan jalan keluar sehingga penat. Tetapi, Allah hanya minta sabar dan solat Orang yang sabar bukan berarti orang yang tak akan pernah marah. 

Semoga Tuhan mengaruniai sabar yang tak terbatas dan ikhlas yang tak bertepi untuk kita semua. Apapun rintangan & cobaan akan lebih ringan Tuhan bersama orang-orang yang sabar dalam menghadapi cobaan. 

Jadikan cobaan sebuah pelajaran, jangan pernah mengeluh karena kesusahan, di situ kita diajarkan untuk menjadi orang yang sabar. 

Ya Allah, jadikanlah aku hambaMu yang lebih sabar serta menyadari bahwa cobaan adalah cara membuat diriku menjadi lebih baik. AMIN!

Cobaan adalah cara Tuhan membuat diri kita menjadi pribadi yang lebih sabar dan kuat. Jalan menuju kebaikan itu memang banyak cobaan yang penting sabar dan istiqomah menjalaninya.

75+ Kata Bijak Singkat Penuh Makna Kesabaran


Kira-kira 7 tahun yang lalu saya pernah belajar Ilmu Semantik atau Ilmu yang mempelajari makna kata serta efek yang ditimbulkan terhadap pikiran, perasaan dan perbuatan atau hasil.

Setiap kata yang kita ucapkan itu akan memberikan efek pada pikiran, perasaan dan tindakan kita.

Ambil contoh;


Ketika seseorang memilih kata Hiperaktif pada seorang anak, maka pikiran kita langsung beranggapan anak kita bermasalah, perasaan kita mungkin sedih, bingung, dan tindakan kita biasanya akan mengajak anak kita untuk di terapi.

Namun ketika kata tersebut kita ubah, dari Hiperaktif menjadi Energik dan Cekatan maka pikiran kita tidak lagi beranggapan anak kita bermasalah dan perlu terapi, melainkan kita akan memberikan banyak kegiatan untuk mengisi waktu luangnya agar ia bisa menyalurkan energinya melalui kegiatan tersebut.

Begitu juga dengan pilihan kata "anak nakal", yang akan berefek pada pikiran kita yang langsung menganggap anak kita bermasalah dan perasaan kita kesal, marah dan tindakan kita sering kali membentak atau menghukumnya.

Lalu saya ganti kata "Anak Nakal" dengan "Anak Banyak Akal", coba rasakan perbedaan dari pikiran dan perasaan kita...., lalu apa tindakan kita selanjutnya... Marah kesal atau malah kita akan membawa anak kita untuk melakukan eksperimen membuat hal-hal kreatif dan inovatif...?

Begitu pentingnya arti kata dan pemilihan kata; dan begitu nyatanya efek sebuah kata pada pikiran, perasaan dan tindakan kita.

Saya sudah terapkan dan latihkan ini pada para guru kami; agar selalu berhati-hati dalam memilih sebuah kata dan dalam berkata-kata atau berkomentar.

Nah, yang menarik adalah dalam aplikasi agama saya punya pengalaman menarik, dulu saya sering menggunakan kata-kata "Musuh-musuh Islam" (seperti juga kebanyakan orang menggunakan kata-kata itu untuk menggambarkan orang yang tidak menyukai Islam).

Dan efek dari kata itu adalah saya jadi sering merasa benci dan marah pada musuh-musuh Islam dan hasilnya adalah saya banyak bermusuhan dengan orang lain yang saya anggap musuh Islam.

Lalu saya coba ganti kata "musuh-musuh Islam" itu dengan "Orang-orang yang belum paham tentang kebaikan ajaran Islam"

Dan sungguh hasilnya luar biasa, sejak saat itu saya tidak lagi merasa punya musuh, dan bermusuhan dengan siapapun, melainkan lebih fokus untuk menunjukkan kebaikan demi kebaikan dari ajaran-ajaran Islam pada orang-orang yang belum memahaminya.

Hasilnya karena saya selalu menunjukkan kebaikan demi kebaikan pada orang lain, maka orang lainpun menjadi sangat baik pada saya.

Sampai-sampai di hampir setiap kota di Indonesia saya selalu punya teman-teman yang baiknya sudah seperti saudara sendiri. Dan kedatangan saya selalu dinanti-nantikan di hampir setiap daerah.

Jadi mari kita coba teliti lagi kata-kata yang kita pergunakan selama ini apakah menimbulkan efek negatif pada pikiran, perasaan dan perbuatan kita..?

Jika jawabannya Iya, maka segera cari kata pengganti yang lebih baik dan memberikan efek positif pada pikiran, perasaan dan perbuatan kita.

Mau coba? lihat deh hasilnya menakjubkan.

Jika tulisan ini dirasa bermanfaat silahkan di share pada siapa saja.


Penulis: Ayah Edy

Hati-hati dengan Komenmu

Aa, Abang, Kaka. Masuk kamar!” suara Ayah tegas dengan nada dan volume cukup tinggi namun bermimik wajah lembut.

Ada apa gerangan? Ayah hampir tidak pernah sekeras ini saat berbicara.

Kami bertiga masuk ke kamar, menuruti perintah Ayah dengan kepala tertunduk. Peluh masih membasahi sekujur punggung, kami baru pulang bermain bola di kampung sebelah saat adzan Isya telah berkumandang. Memang kami terlalu larut bermain.

Kamar itu sebenarnya sebuah garasi yang disulap menjadi tempat tidur bersama dan ruang serbaguna dengan penerangan lampu seadanya. Aa bersila diantara aku dan Kaka yang juga ikut bersila. Kami sering disebut ‘Tiga Serangkai’ oleh tetangga karena selalu bertiga kemana-mana. Ayah pun bersila di hadapan kami. Wajahnya mempertontonkan kekecewaan yang semakin membuat kami ciut.

“Kenapa pulang selarut ini?” Ayah mulai menginterogasi kami.

Aa sebagai kakak lelaki pertama memposisikan diri sebagai juru bicara dan mulai berkilah panjang tentang alasan kenapa pulang larut malam. Mulai dari sendal Kaka yang hilang sebelah karena dijahili anak kampung sebelah hingga diajak main Playstation setelah main bola oleh Dodi, tetangga sekaligus teman karib kami bertiga.


“Sudah shalat maghrib?”

Sebuah pertanyaan yang mencekat. Aa diam membeku. Apalagi aku, Apalagi Kaka yang paling muda. Kami betul-betul lupa waktu saat itu. Hanya menundukkan kepala yang bisa kami lakukan. Mungkin karena ini wajah ayah begitu kecewa.

"Bu, tolong matikan lampu”, suara Ayah lembut kepada Ibu.

Ibu yang semenjak awal ternyata mendengarkan di balik pintu kemudian masuk dan mematikan lampu lalu duduk di samping Ayah. Kamar seketika gelap gulita.

“Apa yang bisa kamu lihat sekarang?”

Hening.

"Semua gelap. Lihat sekeliling kamu, hanya ada hitam. Tapi ulurkan tanganmu ke kanan dan ke kiri. Kamu akan merasakan genggaman tangan saudaramu dan Ayah Ibu.”

Kami saling menggenggam.

“Tapi tidak lagi saat nanti di alam kubur. Karena kamu akan sendirian dalam kegelapan. Tidak ada saudaramu. Tidak ada Ayah Ibu. Hanya sendiri. Sendiri dalam kegelapan dan kesunyian.”

Aku tercekat. Semua terdiam. Genggaman tangan di kanan kiriku mengerat. Lalu terdengar suara korek api kayu dinyalakan, sesaat tergambar wajah Ayah, Ibu, Aa, dan Kaka akibat kilatan cahaya api pada korek yang dinyalakan Ayah. Semua berwajah sendu. Korek itu membakar sebuah benda yang menghasilkan bara berbau menyengat. Bau obat nyamuk.

"Siapa yang berani menyentuh bara ini?” suara Ayah masih mendominasi.

Semua diam. Masih diam.

“Ini hanya bara. Bukan api neraka yang panasnya jutaan kali lipat api dunia. Maka masihkah kita berani meninggalkan shalat? Shalat yang akan menyelamatkan kita dari gelapnya alam kubur dan api neraka.”

Terdengar suara isak tangis perempuan. Itu Ibu. Genggaman kami semua semakin menguat.

"Tolong Ayah. Tolong Ibu. Ayah Ibu akan terbakar api neraka jika membiarkan kamu lalai dalam shalat. Aa, usiamu 14 tahun, paling dewasa di antara semua lelaki. Abang, 12 tahun. Kaka, 10 tahun. Bahkan Rasul memerintahkan untuk memukul jika meninggalkan shalat di usia 10 tahun. Apa Ayah perlu memukul kamu?”

Suara isak tangis mulai terdengar dari hidung kami bertiga. Takut. Itu yang kurasakan. Kami semua saling mendekat. Mendekap, bukan lagi menggenggam.

“Berjanjilah untuk tidak lagi meninggalkan shalat. Apapun keadaannya. Sekarang kita shalat Isya berjamaah. Dan kamu bertiga mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

*****

Anak anda mulai berumur 7 tahun? Belajarlah 'Tega'. Ilustrasi di atas akan menguatkan semangat kita untuk mengikis habis yang menjadi penghambat/ujian dalam menjaga fitrah keimanannya. Semoga bermanfaat.

Bukan Ayah yang Galak

"Apakah di rumahmu ada kemoceng?" Tanya seorang Ustadz pada seorang pemuda.

"Ada, ya Ustadz," jawab pemuda itu.

"Pulanglah. Besok kemarilah lagi dan bawa kemoceng itu. Kau harus berjalan kaki. Dalam perjalananmu, cabutilah bulu-bulu kemoceng itu, lalu buanglah di sepanjang perjalananmu kemari, satu helai demi satu helai."

"Baik Ustadz." Pemuda itu pun pulang. Dan keesokan harinya, dia pun kembali lagi menemui Ustadz tersebut.

"Wahai ustadz, aku sudah mengikuti semua yang engkau perintahkan kemarin. Aku ke sini berjalan kaki. Dan semua bulu kemoceng ini sudah dicabuti dan dibuang seperti perintahmu."

"Bagus. Sekarang pulanglah. Tapi, dalam perjalanan pulang, kumpulkan kembali semua bulu-bulu kemoceng yang kau buang tadi. Besok kembalilah lagi."

"Baik Ustadz". Dia sungguh tidak mengerti, apa maksud Ustadz ini memerintahkan ini dan itu.

Ada beberapa pertanyaan muncul. Namun pertanyaan terbesar adalah, apa pelajaran yang sedang diajarkan oleh Ustadz itu kepadanya. Dia pun pulang. Dalam perjalanan pulang, dia mulai melaksanakan perintah Ustadz itu: mengumpulkan kembali bulu-bulu kemoceng yang dibuangnya. Sungguh bukan pekerjaan ringan. Karena bulu mudah tertiup angin. Terbang dan berpindah ke sana kemari, tanpa dia tahu ke mana arah yang dituju. Di mana tempat yang disinggahi. Usaha untuk mencari sudah sangat maksimal. Dia pun menghitung, waktu yang dibutuhkan untuk pulang ternyata jauh lebih lama daripada waktu untuk berangkat. Dia pun pulang dengan perasaan sedih, lelah, dan penuh tanda tanya. Sampai akhirnya, esok menjelang. Dia harus kembali menemui sang Ustadz.

"Bagaimana, sudah terkumpul semua?"

"Tidak Ustadz. Dari sekitar 500 helai yang saya buang saat berangkat, ternyata hanya ada 5 helai yang bisa saya kumpulkan kembali."

*****



Perumpamaan pada ilustrasi diatas adalah fitnah itu bagaikan bulu kemoceng. Satu fitnah disebar, seperti membuang satu helai bulu kemoceng. Kemudian terbawa angin, terbang tak tentu arah, menuju ke tempat yang tidak kita tahu. Hinggap dari satu tempat, kemudian terbang ke tempat lain dengan membawa berita yang sama: FITNAH. Kita tidak tahu bagaimana cara meluruskannya. Karena kita juga tidak tahu sudah sampai mana dan ke mana menyebarnya. Menyesal sudah tidak ada guna, walau yang difitnah sudah memaafkan. Tapi fitnah sudah menjadi fakta pergunjingan, yang sebarannya eksponensial. Ditambah bumbu dengki, maka tak ayal fitnah mudah disebar. Apalagi ditambah juga dengan bumbu kepentingan, maka fitnah sering dijadikan senjata. Pada intinya sama, kita tidak tahu bagaimana meluruskannya.

Allah sendiri menyebut fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Tapi, kisah diatas mungkin bisa menjadi ilustrasi. Ketika kita memfitnah seseorang dengan menyebarkan kabar tidak benar tentangnya ke satu atau dua orang. Awalnya satu, dua, lalu menjadi empat, delapan, enambelas orang dan seterusnya. Maka pada saat itu kita sedang membunuhnya secara perlahan dan sadis. Menganggapnya ada padahal tidak ada. Membuatnya menanggung dosa yang tidak dilakukannya. Sampai akhirnya dia berpikir untuk tidak ingin hidup lagi. Semua mata memandangnya seperti seorang penjahat yang layak dibunuh. Sadis dan kejam.

Tanpa kita sadar, terkadang kita juga berperan seperti 'penerbang' bulu kemoceng. Yang membuat situasi menjadi kian parah. Kita menyebarluaskan fitnah. Dengan mudahnya jari jemari ini menekan tombol LIKE, COMMENT, atau SHARE dari sebuah tautan yang tidak kita ketahui kebenaran informasinya, kevalidan datanya, atau keshahihan sumber/sanadnya. Kita juga terlalu mudah mempercayai berita, di media sosial utamanya. Walau belum yakin kebenarannya, tapi karena sesuai dengan pandangan berpikir dan standar kita tentang baik dan buruk, benar dan salah, tetap saja kita menyebarluaskannya. Terlalu banyak tautan yang masih diragukan kebenaran atau kebaikannya, atas dasar kesesuaian selera, runtuhlah logika berpikir kita.

*****

Semoga kita semakin cerdas dan berhati-hati dalam menerima atau bahkan menulis/menyampaikan berita. Khawatir menjadi fitnah atau menyebarkan fitnah yang sudah ada sebelumnya. Semoga kita menjadi lebih bijak dalam menerima informasi atau menyebarkan informasi karena akan ada orang lain yang akan 'mati' bukan karena dibunuh melainkan terpaksa menahan beban yang tidak seharusnya dia tanggung.

Share informasi bermanfaat ini agar rekan, dan orang-orang terdekat kita diingatkan kembali tentang bahayanya fitnah.

Fitnah Bulu Kemoceng

Belum lama ini ramai pemberitaan dan propaganda legalisasi hubungan sesama jenis kaum LGBT atau homoseksual di media sosial. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Keberadaan kaum homoseks mengingatkan kembali pada kisah kaum Sodom yang hidup semasa diutusnya Nabi Luth alaihis salam. Suatu kaum yang suka bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan melakukan penyimpangan seksual yang kemudian oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan azab kepada mereka hingga tak tersisa.

Bagi yang memiliki iman, bencana alam yang datang bertubi-tubi menimpa bangsa ini tentu merupakan satu isyarat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, agar kita kembali ke jalan tauhid dengan benar, tidak menuhankan sesama mahluk, tidak menuhankan benda mati, karena Tuhan itu hanya satu yakni Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Ada sekelumit kisah nyata yang pernah terjadi pada sebagian bangsa ini yang mungkin kita telah lupa. Dan sayangnya, peristiwa yang penuh dengan pelajaran ini sama sekali tidak disinggung-singgung sedikit pun di dalam buku pelajaran di sekolah. Kita dan anak-anak kita tidak pernah tahu jika ada suatu desa yang penduduknya nyaris berperilaku sama seperti kaum Nabi Luth (Sodom-Gomorah), senang bermaksiat, yang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kemudian di adzab dengan dikubur seluruhnya dalam satu malam hingga tidak bersisa. Satu desa bersama seluruh penduduknya lenyap dalam satu malam tertutup puncak sebuah gunung yang berada jauh dari lokasi desa itu.

Siapakah yang mampu memindahkan puncak gunung ke suatu tempat untuk mengubur satu desa kecuali Allah Yang Maha Kuasa?



“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk 67: 16)

Inilah kisah tentang Dukuh Legetang, yang masuk dalam wilayah Banjarnegara, Jawa Tengah. Kejadiannya di tahun 1955

Dukuh Legetang adalah sebuah dukuh makmur yang lokasinya tidak jauh dari dataran tinggi Dieng-Banjarnegara, sekira 2 kilometer di sebelah utaranya. Dukuh Legetang terletak di desa Pekasiran, kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara, masih berada di wilayah pegunungan Dieng – Petarangan. Secara astronomis terletak pada 7.19416667S, 109.8652778E.

Penduduknya cukup makmur dan kebanyakan para petani yang cukup sukses. Mereka bertani sayuran, kentang, wortel, kubis, dan sebagainya.

Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak panen tetapi mereka panen berlimpah. Kualitas buah dan sayur yang dihasilkan juga lebih baik dari yang lain.

Namun bukannya mereka bersyukur, dengan segala kenikmatan ini mereka malah banyak melakukan kemaksiatan. Barangkali ini yang dinamakan “istidraj” atau disesatkan Allah dengan cara diberi rezeki yang banyak namun orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam kesesatan.

Masyarakat Dukuh Legetang umumnya ahli maksiat. Perjudian di dukuh ini merajalela, begitu pula minum-minuman keras. Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger, sebuah kesenian tradisional yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinaan. Ada juga anak yang malah melakukan kemaksiatan bersama ibunya sendiri. Beragam kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh ini.

Pada suatu malam, 17 April 1955, turun hujan yang amat lebat di dukuh itu. Tapi masyarakat Dukuh Legetang masih saja tenggelam dalam kemaksiatan. Barulah pada tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara keras seperti sebuah bom besar dijatuhkan di sana, atau seperti suara benda yang teramat berat jatuh. Suara itu terdengar sampai ke desa-desa tetangganya. Namun malam itu tidak ada satu pun yang berani keluar karena selain suasana teramat gelap, jalanan pun sangat licin.

Pada pagi harinya, masyarakat yang ada di sekitar Dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu barulah keluar rumah dan ingin memeriksa bunyi apakah itu yang terdengar amat memekakkan telinga tadi malam. Mereka sangat kaget ketika di kejauhan terlihat puncak Gunung Pengamun-amun sudah terbelah, rompal. Dan mereka lebih kaget bukan kepalang ketika melihat Dukuh Legetang sudah tertimbun tanah dari irisan puncak gunung tersebut. Bukan saja tertimbun tapi sudah berubah menjadi sebuah bukit, dengan mengubur seluruh dukuh beserta warganya. Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah, kini sudah menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Gegerlah kawasan Dieng...

Masyarakat sekitar terheran-heran. Seandainya Gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu pasti hanya akan menimpa lokasi di bawahnya. Akan tetapi kejadian ini jelas bukan longsornya gunung. Antara Dukuh Legetang dan Gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Namun sungai dan jurang itu sama sekali tidak terkena longsoran. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu malam tadi terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang.

Siapa yang mampu mengangkat separuh gunung itu kalau bukan Allah Yang Maha Kuasa?



“Dan apabila gunung-gunung diterbangkan,” (QS. at-Takwir: 3)

Untuk memperingati kejadian itu, pemerintah setempat mendirikan sebuah tugu yang hari ini masih bisa dilihat siapa pun.

Tugu Monumen Desa Legetang 



Di tugu tersebut ditulis dengan plat logam:


“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955″

Sungguh kisah terkuburnya dukuh Legetang ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa azab Allah Subhanahu wa Ta'ala yang seketika itu tak hanya terjadi di masa lampau, di masa para nabi, tetapi azab itu pun bisa menimpa kita di zaman ini. Bahwa sangat mudah bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mengazab manusia-manusia lalim dan durjana dalam hitungan detik. Andaikan di muka bumi ini tak ada lagi hamba-hamba-Nya yang bermunajat di tengah malam menghiba ampunan-Nya, mungkin dunia ini sudah kiamat.

Kita berhutang budi kepada para ibadurrahman, para hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berjalan dengan rendah hati, tak menyombongkan dirinya. Mereka senantiasa bersujud memohon ampunan-Nya. Meski keberadaan mereka terkadang tak dianggap, hanya dipandang sebelah mata oleh manusia, tetapi sesungguhnya mereka begitu akrab dengan penghuni langit. Mereka begitu tulus menghamba pada-Nya, berusaha menegakkan kalimat-Nya di muka bumi ini. Mereka tak pernah mengharapkan imbalan dari manusia, karena imbalan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala lebih dari segalanya.



Longsoran Tanah yang Bisa ’Terbang’

Tugu beton yang sudah lapuk dimakan usia masih berdiri tegak di tengah ladang di desa Pekasiran di pegunungan Dieng Kecamatan Batur, Banjarnegara. Tapi tugu setinggi sekitar 10 meter itu jadi penanda tragedi dan misteri terkuburnya dusun Legetang bersama seluruh penghuninya akibat longsornya Pengamunamun pada 1958.

Data pada pahatan monumen marmer di pertigaan Desa Kepakisan, tetangga Pekasiran, menuju ke objek wisata kawah Sileri menyebutkan, jumlah korban jiwa 450 orang. Jauh melebihi korban tewas akibat bencana gas beracun kawah Sinila tahun 1979 yang merenggut 149 nyawa dan menjadi perhatian dunia internasional itu merenggut 149 nyawa.

Salah seorang saksi tragedi Legetang, Suhuri warga Pekasiran RT 03/04 yang kini berusia sekitar 72 tahun mengatakan, musibah terjadi malam hari pukul 23.00 saat musim hujan. ”Saya dan beberapa teman malam itu tidur di masjid. Saya baru dengar kabar gunung Pengamunamun longsor jam tiga pagi,” katanya. Suhuri mengaku lemas seketika begitu mendengar kabar tersebut, karena kakak kandungnya, Ahmad Ahyar, bersama istri dan 6 anaknya tinggal di dusun Legetang. Namun Suhuri maupun keluarganya dan warga lain tak berani langsung ke dusun yang berjarak sekitar 800 meter dari pusat desa Pekasiran, karena beredar kabar tanah dari lereng gunung Pengamunamun masih terus bergerak.

Lenyapnya desa Legetang dan penghuninya juga menyimpan misteri, karena Suhuri dan beberapa warga Desa Pekasiran lain seusianya yang kini masih hidup mengatakan, antara kaki gunung sampai perbatasan kawasan pemukiman di dusun itu sama sekali tidak tertimbun, padahal jaraknya beberapa ratus meter.

”Longsoran tanah itu seperti terbang dari lereng gunung dan jatuh tepat di pemukiman. Sangat aneh”, kata Suhuri sembari menjelaskan, gejala lereng gunung akan longsor sudah diketahui 70 hari sebelum kejadian. Para pencari rumput pakan ternak dan kayu bakar untuk mengasap tembakau rajangan di samping untuk memasak, melihat ada retakan memanjang dan cukup dalam di tempat itu. "Tapi tanda-tanda tadi tak membuat orang waspada, meski sering jadi bahan obrolan di Legetang. Orang baru menghubung-hubungkan soal retakan di gunung itu setelah Legetang kiamat,” imbuhnya.

Waktu itu semua orang tercengang dan suasana mencekam melihat seluruh kawasan dusun Legetang terkubur longsoran tanah. Tak ada sedikit pun bagian rumah yang kelihatan. Tanda-tanda kehidupan penghuninya juga tak ada, kenang Suhuri. ”Alam Legetang sebagian besar cekung. Tanah dari lereng gunung seakan diuruk ke cekungan itu dan meninggi dibanding tanah asli disekitarnya. Banyak warga yang dibiarkan terkubur karena sulit dievakuasi,” ujar Suhuri.

Pencarian terhadap korban, menurut Suhuri, hanya dipusatkan ke titik yang diduga merupakan lokasi rumah bau (kepala dusun) Legetang bernama Rana. Setelah dilakukan penggalian cukup lama oleh warga. Tapi tak sedikit para korban dibiarkan terkubur, karena amat sulit dievakuasi. Satu istri Rana lainnya, bernama Kastari, satu-satunya warga Legetang yang selamat, karena ia pergi dari rumah sebelum gunung itu longsor.

Kini tanah lokasi bencana itu sedikit demi sedikit digarap warga untuk budidaya tembakau dan sayur. Sekitar 1980, ketika kentang menggusur tanaman tembakau dan jagung di pegunungan Dieng, bekas dusun Legetang pun berubah jadi ladang kentang dan kobis, termasuk tanah kuburan umum milik bekas dusun tersebut.

Silahkan share kisah ini jika dirasa bermanfaat untuk kemaslahatan bersama.

Jazakumullah khairan katsiron..

Kisah Nyata Dukuh Legetang Tertimpa Gunung

Menolong orang miskin dan anak yatim menunjukkan bukti cinta seorang Muslim kepada Rasulullah SAW.


Alkisah, di negeri Arab, ada seorang janda yang sangat miskin. Ia memiliki seorang anak. Karena kemiskinannya itu, ia pun berusaha meminta sesuap nasi kepada siapa saja yang mau bermurah hati. Janda tersebut mengembara ke mana saja demi nasi dan makanan untuk dia serta anaknya.

Suatu hari, ia melintas di sebuah masjid dan bertemu dengan seorang Muslim. Kepadanya, janda ini meminta bantuan. “Wahai, tuan, sudilah kiranya bermurah hati. Anakku sedang kelaparan dan aku mohon pertolongan kepada Anda,” ujar janda tersebut.

Mana buktinya kalau Anda miskin dan anak Anda seorang yatim?” tanya laki-laki Muslim itu.

Sang janda tersebut berpikir bagaimana harus menunjukkan bukti yang diminta lelaki itu. Apalagi disitu tidak ada yang mengenalnya. Ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya, ia pergi berlalu dan meninggalkan laki-laki tadi.

Tak lama berselang, si janda bertemu dengan seorang laki-laki Majusi. Ia pun meminta pertolongan kepadanya. Tanpa berpikir panjang, laki-laki Majusi ini langsung membawa si janda ke rumahnya dan memberikan uang serta pakaian. Bahkan, si Majusi ini memerintahkan janda dan anaknya untuk tinggal di rumahnya.

Pada malam harinya, bermimpilah laki-laki Muslim tadi. Dalam mimpinya, ia bertemu dengan Rasulullah SAW. Ia melihat banyak orang mendatangi Rasulullah. Rasul SAW pun menyambut mereka dengan senang hati. Ketika tiba giliran laki-laki Muslim tadi, Rasulullah menolak menyambutnya.

Lelaki tersebut lantas berujar kepada Rasul SAW, “Ya, Rasulullah, aku juga umatmu dan aku mencintaimu,” ujar laki-laki tersebut.

Rasulullah menjawab, “Apa buktinya bahwa kamu umatku dan kamu mencintaiku?” Laki-laki tersebut langsung terdiam. Ia merasa malu karena pertanyaan yang diajukan Rasulullah sama dengan yang ia ungkapkan saat seorang janda meminta pertolongan kepadanya.

Rasulullah SAW kemudian menunjukkan sebuah gedung yang sangat megah di dalam surga. “Lihatlah ini. Seharusnya ini milikmu. Namun, karena engkau menolak menolong umatku dan anak yatim yang sedang kelaparan, tempat ini menjadi milik si orang majusi yang telah menolongnya.”

Pada saat yang sama, si Majusi rupanya juga bermimpi serupa. Ia sangat bahagia karena akan diberikan tempat di dalam surga, sebuah gedung yang sangat megah.

Pagi harinya, si laki-laki Muslim ini mencari janda tersebut. Ia mendapatinya sedang berada di rumah orang Majusi tersebut. Dengan memaksa, ia meminta si Majusi untuk menyerahkan janda tersebut kepadanya.

Serahkanlah kepadaku janda dan anak yatim itu. Biarlah aku yang menolongnya,” kata dia.

Namun, permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh si Majusi. “Tidak. Aku tidak akan menyerahkan mereka kepadamu,” tegasnya.

Berikan saja. Nanti, aku beri engkau uang dinar yang sangat banyak,” pinta si Muslim.

Tidak. Aku tidak akan menyerahkannya kendati engkau bayar dengan gunung emas sekalipun,” jawab si Majusi.

Tapi, engkau orang Majusi, tak pantas engkau menolong janda yang Muslim itu. Seharusnya, orang Muslim juga yang menolongnya,” kata si Muslim.

Orang Majusi itu lalu bercerita, “Tadi malam, aku bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Beliau berkata bahwa beliau akan memberikan surga yang semula akan diberikan kepadamu untukku. Ketahuilah bahwa pagi ini, ketika aku terbangun, aku langsung masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah SAW karena aku telah menunjukkan bukti bahwa aku adalah salah seorang yang mencintainya,” ujar laki-laki Majusi yang telah memeluk Islam tersebut.

Sumber: Cahaya Ramadhan Republika

Istana Surga Megah untuk si Majusi