Apa Yang Masih Tersisa…?

Kisah Hikmah Bermanfaat - Suatu saat seorang aktivis muda melakukan perjalanan dakwah di negeri non-muslim. Dia berjalan mengetuk pintu dari satu rumah ke rumah lain untuk didakwahi, tetapi seluruh rumah yang diketuknya menolak dia dengan berbagai cara. 

Setelah kelelahan hari itu hendak pulang ke penginapannya, dia melihat ada satu rumah yang tidak terawat dan nampak seperti rumah suwung (rumah yang tidak berpenghuni) – maka dalam upayanya yang terakhir dia datangi rumah ini dan mulai mengetuknya pula. Terkejut dia ketika yang muncul dari dalam rumah adalah seorang laki-laki paruh baya yang hanya mengenakan celana kolor.

Melihat tampilan laki-laki penghuni rumah yang seperti ini, si aktivis dakwah dengan sopan minta maaf dan hendak langsung pergi. Tetapi si lelaki tersebut mencegahnya, dipegangnya tangan si aktivis dan diajak masuk kedalam rumah.


Dengan perasaan khawatir dan penuh tanda tanya, si aktivis mengikuti lelaki tersebut memasuki rumah. Dilihatnya dalam rumah yang berantakan dan penuh debu si aktivis tidak tahan untuk bertanya – namun sebelum sempat berucap apa-apa, si lelaki berkolor tadi mendahului bicara.

Rupanya engkaulah yang diutus Tuhan untuk menemuiku!”, tidak sabar si aktivis, dia bertanya : “Mengapa tuan berpikir demikian?”. 

Lelaki tersebut kemudian menjelaskan: “Aku tadi sebenarnya hendak bunuh diri, namun sebelum aku melakukannya – aku ingin bicara dahulu dengan Tuhan”. Semakin penasaran si aktivis, dia menyela: “Bagaimana tuan bicara dengan Tuhan? apa yang tuan ingin sampaikan?”.

Lelaki tadi kemudian menjelaskan: “Aku berdo’a, Ya Tuhan – jika engkau bener bener ada, utuslah seseorang untuk menemuiku, aku akan berhitung sampai tiga kali. Bila sampai hitungan ketiga tidak datang utusanmu, maka aku akan membunuh diriku”. 

Lelaki tadipun melanjutkan: “lalu aku mulai berhitung, satu…, dua…, dan sebelum hitunganku yang ketiga aku mendengar seseorang mengetuk pintu rumah ini, aku bergegas membukanya – ternyata engkaulah orang yang dikirim Tuhan itu…”.

Mendengar penjelasan ini, si aktivis tambah penasaran ingin tahu lebih lanjut, dia bertanya: “mengapa sampai tuan ingin bunuh diri?”. 

Dengan sedih lelaki tadi menggambarkan penderitaannya : “aku kehilangan pekerjaan sejak beberapa tahun lalu, sehingga seluruh rumah dan harta bendaku sudah aku jual untuk bertahan hidup. Rumah ini-pun bukan rumahku, aku hanya menempati rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya – entah siapa. Dalam kondisi-ku yang seperti ini, istriku-pun lari ke pacar pertamanya dulu dan membawa anak-anakku pula…., aku tidak punya apa-apa lagi yang tersisa”.

Si aktivis-pun berpikir sejenak untuk merumuskan strategi dakwahnya yang pas untuk lelaki yang lagi putus asa ini. Satu hal dia tahu bahwa lelaki ini telah menganggapnya sebagai utusan Tuhan, jadi tentunya dia akan mendengarkan apa saja yang hendak disampaikannya.

Lalu si aktivis memulai dakwahnya di meja persegi panjang yang penuh debu dihadapan lelaki tersebut.  Dengan tangannya dia menggaris debu pas di tengah meja, sehingga meja terbagi menjadi dua bagian – bagian kiri dan bagian kanan. Kemudian dia menjelaskan ke lelaki tersebut: “Coba tuan tuliskan di sebelah kiri meja apa-apa yang hilang dari tuan sampai tuan hendak bunuh diri ini…”; Lalu lelaki tadi mulai menulis apa-apa yang dia kehilangan, pekerjaan, rumah, mobil, istri, anak, teman ….dst sampai meja bagian kiri penuh dengan tulisan.

Setelah meja bagian kiri penuh, si aktivis melanjutkan : “sekarang yang di bagian kanan, coba tulis apa-apa yang masih tersisa”. Lelaki berkolor tadi segera menjawab : “Tidak ada lagi yang terisa !, makanya saya mau bunuh diri…?” dia kemudian membiarkan meja bagian kanan kosong.

Si aktivis ingin memandu lelaki tersebut dengan cara yang terbaik menggunakan logika dia. Dia bertanya, “Sejak kapan tuan kehilangan penglihatan tuan?” Si aktivis sengaja bertanya demikian meskipun dia tahu lelaki tersebut masih memiliki mata yang sempurna. Kaget dengan pertanyaan ini, lelaki tersebut setengah berteriak menjawab “Aku tidak buta, aku masih bisa melihat!”. Si aktivis berpikir ‘kena loe!’ , lalu menyampaikan “kalau begitu, tulis di bagian kanan meja bahwa tuan masih punya mata”, lalu lelaki tersebut menulis di meja bagian kanan paling atas “mata”.

Si aktivis melanjutkan pertanyaannya, “Kapan terakhir kali tuan operasi jantung?” Si lelaki ini kaget lagi, dia berteriak “Ngawur kamu, aku tidak pernah operasi jantung – jantungku segar bugar”. Lalu si aktivis tersenyum : “kalau begitu, tulis di bagian kanan meja, bahwa tuan masih mempunyai jantung yang sehat!”.  Merasa tamunya adalah ‘utusan Tuhan’, lelaki tersebut nurut, di bawah tulisan ‘mata’, dia menulis ‘jantung’.

Karena tidak segera melanjutkan memenuhi meja bagian kanan dengan tulisan apa yang tersisa, si aktivis dakwah tadi melanjutkan pertanyaannya : “Sejak kapan tuan kehilangan keperkasaan tuan?”. Setengah tersinggung dengan pertanyaan yang terakhir ini, lelaki tersebut berteriak lagi : “Saya tidak kehilangan kejantanan saya, saya masih perkasa, jangan sok tahu kamu anak muda!”. Dengan sopan dan tersenyum si aktivis dakwah menjawab : “kalau begitu tulis di meja bagian kanan kalau tuan masih punya kejantanan”.

Lelaki tua tadi segera sadar dengan serangkaian pertanyaan tadi, lagipula dia ingat tamunya anak muda ini adalah utusan Tuhan – maka  dengan semangat sekarang dia memenuhi meja bagian kanan dengan tulisan-tulisan tentang apa saja yang dia masih miliki ,kejantanan, hati, ginjal, tangan, kaki, otak…dst sampai meja bagian kanan-pun penuh.

Setelah meja penuh dengan tulisan, dikiri apa yang hilang dari lelaki tersebut dan di kanan dengan apa-apa yang masih dimilikinya, maka si aktivis dakwah menyampaikan : “Lihatlah tuan, apa yang tuan masih miliki di bagian kanan meja tidak kalah banyaknya dengan apa-apa yang hilang di sebelah kiri; apa-apa yang tuan tuliskan di sebelah kanan juga tidak ada yang kalah berharganya dengan apa-apa yang ada di kiri”.
Begitulah kita semua, sering mengeluh dan menyesali apa-apa yang kita tidak peroleh dan apa-apa yang luput dari kita ; sampai-sampai kita lupa mensyukuri bahwa sesungguhnya yang masih ada pada diri kita tidak kalah banyaknya dan tidak kalah berharganya pula.
Mudah-mudahan kita semua menjadi hambaNya yang pandai bersyukur….amin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel